Jumat, 28 Desember 2012

Tentang Karet

0 komentar Diposkan oleh Natural Nusantara at 02.50
Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan. Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). 
Beberapa tumbuhan lain juga menghasilkan getah lateks dengan sifat yang sedikit berbeda dari karet, seperti anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion. 
Pada masa Perang Dunia II, sumber-sumber ini dipakai untuk mengisi kekosongan pasokan karet dari para. Sekarang, getah perca dipakai dalam kedokteran (guttapercha), sedangkan lateks sawo manila biasa dipakai untuk permen karet (chicle). 
Karet industri sekarang dapat diproduksi secara sintetis dan menjadi saingan dalam industri perkaretan.

- Biokimia -

Karet adalah polimer dari satuan isoprena (politerpena) yang tersusun dari 5000 hingga 10.000 satuan dalam rantai tanpa cabang. Diduga kuat, tiga ikatan pertama bersifat trans dan selanjutnya cis. Senyawa ini terkandung pada lateks pohon penghasilnya. 

Pada suhu normal, karet tidak berbentuk (amorf). Pada suhu rendah ia akan mengkristal. 
Dengan meningkatnya suhu, karet akan mengembang, searah dengan sumbu panjangnya. Penurunan suhu akan mengembalikan keadaan mengembang ini. Inilah alasan mengapa karet bersifat elastik.

- Biosintesis -

Lateks dibentuk pada permukaan benda-benda kecil (disebut "badan karet") berbentuk bulat berukuran 5 nm sampai 5 μm yang banyak terdapat pada sitosol sel-sel pembuluh lateks (modifikasi dari floem). Sebagai substratnya adalah isopentenil difosfat (IPD) yang dihasilkan sel-sel pembuluh lateks.

Dengan bantuan katalisis dari prenil transferase, pemanjangan terjadi pada permukaan badan karet yang membawa suatu polipeptida berukuran 14 kDa yang disebut rubber elongation factor (REF). 
Sebagai bahan pembuatan starter, diperlukan pula 3,3—dimetilalil difosfat sebagai substrat kedua. Suatu enzim isomerase diperlukan untuk tugas ini.

- Pemanenan -

Lateks diperoleh dengan melukai kulit batangnya sehingga keluar cairan kental yang kemudian ditampung. Cairan ini keluar akibat tekanan turgor dalam sel yang terbebaskan akibat pelukaan. Aliran berhenti apabila semua isi sel telah "habis" dan luka tertutup oleh lateks yang membeku.


- Penemuan -

Karet diyakini dinamai oleh Joseph Priestley, yang pada 1770 menemukan lateks yang dikeringkan dapat menghapus tulisan pensil. Ketika karet dibawa ke Inggris, dia diamati bahwa benda tersebut dapat menghapus tanda pensil di atas kertas. Ini adalah awal penamaan rubber dalam bahasa Inggris.

Di tempat asalnya, di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, karet telah dikumpulkan sejak lama. Peradaban Mesoamerika menggunakan karet dari Castilla elastica. Orang Amerika Tengah kuno menggunakan bola karet dalam permainan mereka (lihat: permainan bola Mesoamerika). Menurut Bernal Diaz del Castillo, Conquistador Spanyol sangat kagum terhadap pantulan bola karet orang Aztek dan mengira bahwa bola tersebut dirasuki roh setan.

Di Brasil orang lokal membuat baju tahan air dari karet. Sebuah cerita menyatakan bahwa orang Eropa pertama yang kembali ke Portugal dari Brasil dengan membawa baju anti-air tersebut menyebabkan orang-orang terkejut sehingga ia dibawa ke pengadilan atas tuduhan melakukan ilmu gaib.


- Manfaat -

Karet adalah bahan utama pembuatan Ban, beberapa Alat-alat kesehatan, alat-alat yang memerlukan kelenturan dan tahan goncangan. dibeberapa tempat salah satunya Perkebunan karet di Jember biji karet bisa dijadikan camilan dengan proses tetentu, rasanya gurih namun jangan berlebihan karena kadang membuat pusing kepala.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Karet
Gambar : http://agro.kemenperin.go.id/assets/images/karet.jpg
Baca »

Sabtu, 15 Desember 2012

Videoa Kesaksian Penggunaan Produk Nasa untuk Karet

0 komentar Diposkan oleh Natural Nusantara at 16.21
Berikut ini video kesaksian petani karet pengguna pupuk organik dari PT. Natural Nusantara (NASA), dapat disaksikan terjadinya peningkatan signifikan bobot dan kualitas produksi karet.

Agro kompleks (Pertanian, Peternakan, Perikanan) adalah bidang yang menyangkut makhluk hidup dan lingkungan sehingga pengelolaannya harus bijaksana dan memperhatikan semua aspek terkait diantaranya aspek obyeknya sendiri (tanaman, hewan dan ikan), aspek lingkungan dan aspek manusia (petani dan konsumen).

Dengan demikian apapun teknologi yang dipergunakan pada agrokompleks harus memenuhi syarat K-3 :

Kuantitas
Mampu menaikkan produktivitas (bobot panen meningkat).

Kualitas
Mampu menaikkan kualitas (rasa, aroma, warna, rendemen, keawetan hasil panen, rendah atau bebas dari senyawa-senyawa yang berbahaya bagi kesehatan).

Kelestarian
Mampu menjaga kelestarian lingkungan sehingga secara jangka panjang produktivitas tetap terjaga dan tidak menimbulkan kerusakan dan pencemaran.
Baca »

Jumat, 30 November 2012

MANAJEMEN DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET

0 komentar Diposkan oleh Natural Nusantara at 10.45
PENDAHULUAN

Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di
dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20
tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada
tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun
2004. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas.
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan
perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun
2005 mencapai angka sekitar 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa
ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani dan lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap
komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.

Pada makalah ini disajikan, (i) prospek dan peluang pasar komoditi karet
alam dilihat dari permintaan dan penawaran karet alam sampai dengan tahun
2035, (ii) manajemen dan teknologi budidaya karet, yang meliputi syarat tumbuh
tanaman karet berdasarkan iklim dan dan kesuburan tanah, klon karet
rekomendasi dan teknik budidaya karet lainnya dari mulai tanam sampai panen, dan (iii) kebutuhan investasi pengusahaan kebun karet dalam bentuk analisis kelayakan finansial.
PROSPEK DAN PELUANG PASAR
Karet (termasuk karet alam) merupakan kebutuhan yang vital bagi
kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan
barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban
kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal
karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan
dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif
lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun
harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan.
Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir,
terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin
seperti India, Korea Selatan dan Brazil, memberi dampak pertumbuhan
permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan
karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa Barat dan
Jepang relatif stagnan.
Menurut perkiraan International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan
akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan.
Hal ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti Bridgestone, Goodyear dan Michellin. Sehingga pada tahun 2004, IRSG
membentuk Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi
tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035.



Untuk informasi selanjutnnya, silahkan download informasi lengkapnya dalam bentuk file PDF di sini

Sumber : www.ipard.com
Sumber : http://a3online.wordpress.com/category/budidaya-karet/
Baca »

Kamis, 29 November 2012

Pengendalian Hayati Penyakit Karet

0 komentar Diposkan oleh Natural Nusantara at 10.52
Karet (Hevea brasiliensis) telah menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Prabumulih. Terlebih saat ini. Harga karet melonjak hingga Rp 21.800,- /kg. Hasil sadap rerata 2 kwintal per ha per bulan. Tiap satu keluarga petani yang menyadap sendiri 1 hektar kebun karetnya bisa raih pendapatan di atas 4 juta rupiah per bulan. Pemahaman tentang pengendalian organisme pengganggu tanaman atau hama dan penyakit tanaman menjadi salah satu kunci agar sumber penghidupan ini tetap memberi hasil optimal.
Demikian dari hasil bercakap-cakap dengan beberapa petani karet di Prabumulih. Salah satunya, Tatang. Penangkar bibit karet sekaligus pekebun karet. Kebun karet yang ia kelola pernah terancam serangan jamur akar putih yang disebabkan Rigidoporus lignosus.

Tak ingin terlambat, Tatang segera mengambil tindakan dengan mencoba terapkan saran yang pernah saya sampaikan. Mengendalikan hama ala petani malas. Membiarkan alam bekerja sendiri. Salah satunya adalah meminta jasa jamur jenis lain untuk menghajar jamur pengganggu tanaman budidaya.
Maka, serangan jamur akar putih pada beberapa pohon ia kendalikan dengan (jamur) Trichoderma sp.

Trichoderma memang dikenal sebagai agensia hayati, atau mahluk hidup mikro yang bermanfaat dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Sama seperti jamur pengganggu yang sering merusak tanaman budidaya, trichoderma juga sejenis fungi/jamur. Hanya saja ia tidak mengganggu tanaman budidaya. Justru bila trichoderma tumbuh di tempat jamur perusak, keberadaan trichoderma akan menekan populasi jamur perusak hingga kalah dan habis.

Tindakan yang dipilih Tatang tak keliru. Serangan jamur akar putih di beberapa pohon karet miliknya lenyap. Pengalaman ini dia terapkan untuk membantu para pekebun karet lain. Hingga saat ini ia sudah membantu menyelamatkan serangan jamur akar putih di sekitar 10 hektar kebun karet milik 5 pekebun karet lain.

Ketertarikan Tatang “sekolah lapangan” pengendalian organisme pengganggu tanaman membuatnya gemar melakukan ujicoba. Saat ini dia sedang bersiap mengujicoba pengendalian serangan kanker garis yang dibawa oleh cendawan phytophthora palmivora.
“Mumpung penyakit ini belum mengancam kebun karet di Prabumulih,” ungkap Tatang mengenai ujicoba yang sedang ia persiapkan.
Baca »

Rabu, 28 November 2012

Tips Meningkatkan Produksi Karet dengan Cepat

0 komentar Diposkan oleh Natural Nusantara at 02.41


Resep meningkatkan produksi getah karet supaya bisa menghasilkan lebih dari 3 Kwintal (300 Kg) tiap 15 hari (dari 500 pohon) dengan teknologi organik NASA.
Caranya, per 1 drum air 200 Liter + SUPERNASA 1/2 Kg + HORMON ORGANIK 50cc + pupuk Makro 10 Kg. Siramkan di akar serabut, per pohon 1 Liter. Cukup untuk 200 pohon. Interval pemupukan 3-4 bulan sekali.


Tips menyembuhkan luka bekas sadapan, batang menghitam, memberantas jamur, dan menyembuhkan mati kulit. 
Caranya, AIR 1 tangki semprot (SOLO) + POC NASA 7 tutup + HORMON ORGANIK 3 tutup + PESTONA 10 tutup + AERO 1 tutup. Semprotkan ke batang sadapan, interval 3 hari sekali. Cukup semprotkan pada hari ke 3, 6, dan 9.

CARA MUDAH MEMBERANTAS PENYAKIT JAP (Jamur Akar Putih):

Air 15 Liter + NATURAL GLIO 100 gram (1 kotak) + SUPERNASA 3 sendok makan + HORMON ORGANIK 2 tutup. Siram di pangkal batang 1 lier per pohon interval 1 minggu sekali. Biasanya 2 x siram sudah sembuh. Jangan pakai air ledeng, boleh air sumur / sungai. Selama penyembuhan JAP jangan menyemprotkan pestisida atau herbisida.
Baca »

Selasa, 27 November 2012

Cara Pemupukan Karet

0 komentar Diposkan oleh Natural Nusantara at 02.08

Umur 1 s/d 3 tahun

1. Pemupukan Dengan Sistem Penyiraman

Buat Larutan Induk
1 botol Supernasa + 50 kg NPK + 200 liter air ( untuk 50 pohon)
Tiap pohon diberi 4 liter larutan induk dicampur dengan 10 liter air, kocorkan disekitar pohon diaplikasikan 4 bulan sekali, atau;
2. Pemupukan Dengan Sistem Tabur
  • 1 botol Supernasa + 25 kg Urea + 12,5 kg TSP + 12,5 KCl + 1 botol poc nasa,
  • Dicampur di taburkan tiap pohon 1 kg aplikasikan setiap 4 bulan sekali (untuk 50 pohon).
  • Penyemprotan dilakukan 15 hari sekali pada batang dan daun yang terjangkau semprot ( dosis 4 tutup poc nasa + 5 cc Aero + 15 liter air)
Umur 4 s/d 8 tahun

1. Pemupukan Dengan Sistem Penyiraman
Buat Larutan Induk
1 botol Supernasa+ 75 kg NPK + 200 liter air ( untuk 50 pohon)
Tiap pohon diberi 4 liter larutan induk dicampur dengan 10 liter air, kocorkan disekitar pohon diaplikasikan 4 bulan sekali, atau;
2. Pemupukan Dengan Sistem Tabur
1 botol Supernasa+ 35 kg Urea + 20 kg TSP + 20 KCl + 1 botol poc nasa,
Dicampur di taburkan tiap pohon 1,5 kg aplikasikan setiap 4 bulan sekali (untuk 50 pohon).
Penyemprotan dilakukan 15 hari sekali pada batang dan daun yang terjangkau semprot ( dosis 4 tutup poc nasa + 5 cc Aero + 15 liter air)

Umur 9 s/d 20 tahun

1. Pemupukan Dengan Sistem Penyiraman
Buat Larutan Induk;
1 botol Supernasa+ I botol poc nasa + 100 kg NPK + 200 liter air ( untuk 50 pohon)
Tiap pohon diberi 4 liter larutan induk dicampur dengan 10 liter air, kocorkan disekitar pohon diaplikasikan 4 bulan sekali, atau;
2. Pemupukan Dengan Sistem Tabur
1 botol Supernasa+ 50 kg Urea + 25 kg TSP + 25 kg KCl + 1 botol poc nasa,
Dicampur di taburkan tiap pohon 2 kg aplikasikan setiap 4 bulan sekali (untuk 50 pohon).
Penyemprotan dilakukan 15 hari sekali pada batang dan daun yang terjangkau semprot ( dosis 4 tutup poc nasa + 5 cc Aero + 15 liter air)
Berikan dolomite 1 tahun sekali dengan dosis 2 kg setiap pohon ditaburkan merata disekeliling pohon.


Baca »

Senin, 26 November 2012

Beberapa Penyakit Tanaman Karet

0 komentar Diposkan oleh Natural Nusantara at 17.39
Penyakit Jamur Akar Putih

 
 










Gejala Serangan
  • Mati mendadak seperti tersiram air panas pada musim hujan
  • Terbentuk buah lebih awal pada tanaman muda yang seharusnya belum cukup waktunya berbuah dan bertajuk tipis
  • Daun berwarna hijau gelap kusam dan keriput, permukaan daun menelungkup
  • Apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benangbenang
    berwarna putih kekuningan menempel dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas
  • Gejala lanjut akar membusuk, lunak dan berwarna coklat Penyebab: Jamur Rigidoporus lignosus atau R. micropus


Penyakit Bidang Sadap Kanker Garis
Gejala Serangan
  • Adanya selaput tipis berwarna putih kelabu dan tidak begitu jelas menutupi alur sadap, apabila dikerok diatas irisan sadap akan tampak garis-garis tegak, berwarna coklat atau hitam
  • Garis-garis ini berkembang dan berpadu satu sama lain membentuk jalur hitam yang terlihat seperti retak-retak membujur pada kulit pulihan
  • Terdapat benjolan-benjolan atau cekungan-cekungan pada bekas bidang sadap lama sehingga sangat mempersulit penyadapan berikutnya
  • Gejala lanjut lateks yang keluar berwarna coklat dan berbau busuk
Penyebab: Phytophthora palmivora
 
Penyakit Bidang Sadap Mouldy Rot
Gejala serangan
  • Adanya lapisan beledru berwarna putih kelabu sejajar dengan alur sadap. Apabila lapusan dikerok, tampak bintik-bintik berwarna coklat kehitaman
  • Serangan bisa meluas sampai ke kambium dan bagian kayu
  • Pada serangan berat bagian yang sakit membusuk berwarna hitam kecoklatan sehingga sangat mengganggu pemulihan kulit
  • Bekas serangan membentuk cekungan berwarna hitam seperti melilit sejajar alur sadap. Bekas bidang sadap bergelombang sehingga menyulitkan penyadapan berikutnya atau tidak bisa lagi disadap.
Penyakit Bidang Sadap Kering Alur Sadap
Gejala serangan
  • Tanaman tampak sehat dan pertumbuah tajuk lebih baik dibandingkan tanaman normal
  • Tidak keluar lateks di sebagian alur sadap. Beberapa minggu kemudian keseluruhan alur sadap ini kering dan tidak mengeluarkan lateks
  • Lateks menjadi encer dan kadar karet kering (K3) berkurang
  • Kekeringan menjalar sampai ke kaki gajah baru ke panel sebelahnya
  • Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi coklat dan kadang-kadang terbentuk gum (blendok)
  • Pada gejala lanjut seluruh panel/kulit bidang sadap kering dan pecah-pecah hingga mengelupas
    Penyebab: ketidakseimbangan fisiologis dan penyadapan yang berlebihan
Penyakit Batang : Nekrosis Kulit
Gejala serangan

  • Timbul bercak coklat kehitaman seperti memar pada permukaan kulit dan dapat timbul mulai dari kaki gajah sampai di percabangan
  • Bercak membesar, bergabung satu sama lain, basah dan akhirnya seluruh kulit batang dan cabang membusuk
  • Penyakit berkembang pada lapisan kulit sebelah dalam dan merusak lapisan kambium bahkan sampai ke lapisan kayu
  • Serangan lanjut kulit pecah dan terjadi pendarahan karena pembuluh lateks pecah
    Penyebab: Jamur Fusarium solani, berasosiasi dengan Botrydiplodia sp
Penyakit Batang : Jamur Upas


Gejala serangan
  • Stadium Laba-Laba: Pada permukaan kulit bagian pangkal atau atas percabangan tampak benang putih seperti sutera mirip sarang laba-laba
  • Stadium Bongkol: Adanya bintil-bintil putih pada permukaan jaring laba-laba
  • Stadium Kortisium: Jamur membentuk selimut yaitu kumpulan benang-benang jamur berwarna merah muda. Jamur telah masuk ke jaringan kayu
  • Stadium Nekator: Jamur membentuk lapisan tebal hitam yang terdiri dari jaringan kulit yang membusuk dan kumpulan tetesan lateks yang berwarna coklat kehitaman meleleh di permukaan bidang yang terserang.
  • Cabang atau ranting yang terserang akan membusuk dan mati serta mudah patah
    Penyebab: Jamur Cortisium salmonicolor
Penyakit Daun: Embun Tepung Oidium
Gejala serangan

  • adanya bercak yang tembus cahaya/translucens dan di bawah permukaan daun
  • terdapat bunder berwarna putih
    Penyebab: jamur Oidium sp
Penyakit Daun: Gugur Daun Colletotrichum
Gejala serangan

  • adanya bercak coklat kehitaman, tepi daun menggulung. Pada daun umur lebih
    dari 10 hari terdapat bercak coklat dengan halo warna kuning selanjutnya bercak
    tersebut berlubang
    Penyebab: jamur Colletotrichum sp
Penyakit Daun: Gugur Daun Corynespora
Gejala serangan

  • adanya guratan menyerupai tulang ikan sejajar pada urat daun
    Penyebab: jamur Corynespora sp
Hama rayap
Gejala Serangan

  • Adanya gerekan pada batang dari ujung sampai ke akar dan memakan akar
  • Biasanya pada kebun yang terserang JAP akan diiringi dengan serangan rayap
    sehingga mempercepat matinya tanaman
    Penyebab
    - Microtermes inopiratus
    - Coptotermes convignathus
Hama Babi Hutan
Gejala Serangan

  • Tanaman muda tiba-tiba tumbang
  • Perakaran rusak, daun menjadi layu dan kering
    Penyebab
    Sub barbatus, Sus scrofa vittatus
Hama: Uret
Gejala Serangan

  • Tanaman yang terserang berwarna kuning, layu dan akhirnya mati
Penyebab
  • Uret tanah Helotrichia serrata, H. sufoflava, H. fessa, Anomala varians, Leucophalis sp 
  • Exopholis sp

GULMA
Gulma yang sering dijumpai di kebun karet adalah alang-alang (Imperata cylindrica), Ki
Rinyuh (Chromolaena odorata), dan Sembung Rambat (Mikania micrantha)
Gulma dapat menyebabkan:

  • Penurunan hasil 
  • Penurunan kualitas hasil
  • Mempersulit pelaksanaan kegiatan pemeliharaan/panen
  • Menjadi inang bagi OPT 
  • Tertundanya masa panen (sadap)
Baca »

Sponsor

peluang usaha

 

Popular Posts

Pengunjung

© 2012 SOFTECHNOGEEK | Modifikasi dan Publikasi Kodokoala. All Rights Reserved.